Sejarah Nagari Manggopoh

Profil / Sejarah

Sejarah Perang Manggopoh

        Pada Tahun 1908 Nagari Manggopoh berontak melawan penjajah Belanda yang dikenal dengan Perang Manggopoh 1908. Perang Manggopoh berawal dari rasa muak, kaum ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai dan rakyat Kanagarian Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Seluruh elemen masyarakat Manggopoh menilai tindakan-tindakan serdadu Belanda sudah berada di luar batas kewajaran sebagai manusia, dan melanggar adat sopan santun masyarakat Manggopoh yang menjunjung tinggi nilai adat dan budaya luhur Minangkabau.

      Tingkah polah penjajah Belanda tidak hanya dinilai menzalimi rakyat semata dengan penetapan pajak (belasting) yang tinggi, tapi mulai merambah ranah etika dan moral. Seperti mengganggu istri orang, menggangu perempuan yang mandi dan mencuci di Batang Antokan dan Kalulutan yang mengapit Negeri Manggopoh.

          Karena perangai buruk “kafir” Belanda yang menindas rakyat lahirlah perlawanan- perlawanan dari kalangan adat, agama, cerdik pandai dan pemuda. Mereka berkumpul di sebuah mesjid (Sekarang disebut mesjid Pahlawan) di kampung parit yang terletek beberapa ratus meter dari benteng Belanda (Manggopoh). Rapat itu dipimpin oleh Tuangku Padang yang kemudian dikenal Pakcik Tuanku Padang. Beliau seorang ulama yang juga berfungsi sebagai penasehat kadhi di Manggopoh. Dalam pertemuan rahasia itu, pembicaraan difokuskan pada soal siasat bagaimana menghadapi Belanda. Segala siasat perang dibahas mendetil, termasuk melakukan kontak dengan daerah lain yang senada semangat perjuangan melawan serdadu Pemerintahan Belanda. Karena itulah Majo Ali, ditugaskan ke Kamang untuk menemui pemimpin rakyat disana. Didalam gerakan rahasia itu pulalah lahir pasukan 17 yang di komandoi Siti, orang- orang memanggil dengan sebutan Mandeh Siti atau dikenal juga dengan Siti Manggopoh dan dibantu secara strategis oleh suami Siti, Hasyik atau Rasyik Bagindo Magek. Lima belas nama lainnya, Majo Ali, Dullah Sutan Marajo, Rahman Sidi Rajo, Tabuh Mangkuto Sutan, Dukap Marah Suleman, Muhammad Bagindo Sutan, Tabad Sutan Saidi, Kalik Bagindo Marah, Unik, Saidin Sidi Malin, Kana, Dullah Pakih, Tuanku Padang, Na’ Abas Bagindo Bandaro dan Sumun Sidi Marah.

            Di Padang Mardani, sebuah daerah yang terkesan seram dan menakutkan. Separuh lapangan dikelilingi perkuburan rakyat di sela-selanya tumbuh pohon- pohon katu besar yang rindang serta semak- belukar yang tumbuh liar, disini mereka berkumpul, berlatih dan menyusun strategi penyerangan yang lebih detail.

           Motivasi untuk melakukan perperangan ini kian menjadi-jadi ketika perang Kamang meletus 15 Juni 1908. Majo Ali yang di utus ke kamang, terlibat dalam perang basosoh bersama pejuang setempat. Ia terbilang pemberani dengan keris ditangan, sehingga oleh rakyat kamang ia dijuluki Putra Manggopoh Aceh Pidi, yang barangkali di kaitkan dengan keberanian orang Aceh dalam melawan Belanda. Sehari kemudian Angku Rasyid Bagindo Magek, suami dari Mandeh Siti Manggopoh ikut dalam peperangan Kamang tersebut bersama Majo Ali sampai di Manggopoh, mengabarkan peristiwa perang dan Majo Ali menampakkan kerisnya yang masih lekat darah kering Belanda sebagai ucapan turut turun perang disana.

            Tidak ada waktu lagi, Perang Kamang basosoh telah meletus. Cari pelangkahan yang baik. Malam ini juga kita berperang Majo Ali berkata. Sejenak suasana hening, sesuatu seakan melintas dipikiran pasukan 17 lainnya.

           Tiba- tiba Siti menyahuti Majo Ali sambil mengacungkan tangan terkepal “ Kenapa semua pada terpana. Kalau diantara kita takut mati mendengar ajakan segera perang, sebaiknya pulang saja menunggu rumah, menanak nasi. Biar saya berdua Majo Ali menyerang kafir Belanda” berat dan lantang suara Siti.

           Mendengar kelantangan suara bersemangat perang dari Siti yang pemberani itu, Rasyid Bagindo Magek melangkah ke depan mengacungkan tangannya sebagai kesiapan lahir batin untuk berperang. Kemudian diikuti oleh yang lainnya. Sesaat berselang pasukan 17 mengulurkan tangan untuk berikrar dan bersumpah dengan pedang ditangan dan di atasnya Alqur’an “Samo-samo mengucapkan Allahu Akbar, Sajangka indak ka suruik, aso hilang dua tabilang, pado hiduik bacamin bangkai, bialah mati bakalang tanah, siapo nan mungkia janji dimakan kutuak Kalamullah,” ( Allahu Akbar, Setapak tak kan mundur, asa hilang dua terbilang, biar mati berkalang tanah dari pada hidup terjajah. Siapa mungkir janji dimakan kutuk Kalamullah). Selesai mengucapkan sumpah serta ikrar bersama di tempat keramat tersebut yaitu di kampung Koto, yang dihadiri cerdik pandai serta ulama yang antara lain: Bagindo Magek Sutan (Mak Luma) yang mewakili seluruh ninik mamak, Haji Abd. Gafar (Rajo Sipatokah) serta Haji. Manan.

           Lalu, Rasyid Bagindo Magek mengikrarkan sumpahnya pula di tempat yang sama. Dengan kebulatan hati ia katakan “Seandainya kita tertangkap hidup- hidup, biarlah saya yang menjalankan hukumannya, sekalipun dihukum gantung!” Tuanku Padang masa itu tidak karena ia sedang berada di Padang mengunjungi anaknya yang sedang sakit.

            Setelah memikirkan dan membicarakan secara matang, akhirnya diputuskan untuk melakukan penyerangan besar- besaran. Pasukan dibagi atas dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari Siti, Rasyid Bagindo Magek, Majo Ali dan Dullah Sutan Marajo. Masing- masing bertugas mengikuti Majo Ali dikala benteng Belanda sudah gelap. Kelompok kedua, bertugas mengawasi dan menjaga semua jendela dan pintu kalau ada diantara serdadu meloloskan diri.

            Sebelum berjihad, sebelum penumpasan Belanda, disuatu tempat di Kampung Koto, pasukan yang dipimpin Siti ini melakukan penyucian diri. Melakukan shalat Magrib berjamaah, berzikir, memohonkan diri kepada Tuhan untuk direstui dalam pertempuran melawan Belanda sebentar lagi. Untuk mendukung gerakan perjuangan pun mereka telah melengkapi diri dengan senjata seperti rudus, keris, pedang dan lain- lain. Siti menggunakan rudus sebagai senjatanya.

             Berdasarkan usul Siti nantinya mereka singgah ke Pusaro Limo Paga (sebuah kuburan yang dikeramatkan masyarakat Manggopoh kala itu) “Udo, sabalun barangkek, singgah kito dulu ka pusaro Limau Paga sudah itu baru kito taruih ka Musajik Kampung Parik,” ajak Siti.

            Saran Siti diterima oleh rombongan, para pejuang memanjatkan doa untuk arwah nenek moyang terdahulu yang bersemayam di kuburan itu. Para pejuang juga mengelilingi kuburan ini sebanyak 7 kali, setelah itu langsung berangkat menuju Mesjid Kampung Parik. Rencana penyerbuan dimatangkan di Mesjid Kampung Parik. Tiga orang kurir diutus melakukan penyamaran dengan cara menjadi penjual manggih mudo guna menyelidiki situasi di Benteng Belanda.

            Setelah berdoa, di Mesjid Kampung Parik, dengan mengumandangkan takbiran berangkatlah rombongan pejuang menuju Benteng Belanda. Sebelum berangkat mereka kembali mengikrarkan sumpah setia “ Setapak tak akan mundur, selangkah tidak akan kembali. Siapa berpaling, siapa kafir, siapa mungkir, dihukum kutuk Kalamullah!”. Siti sebagai komandan, sebelum melangkah kaki lebih jauh ke medan perang, berkata “Kalau saudara- saudara berpaling nanti, saudara- saudara telah dianggap keluar dari agama islam. Selamanya kehidupan saudara akan melarat sekalipun saudara- saudara berusaha. Namun jikau saudara teguh untuk berjuang, mudah-mudahan, Allah akan memberi rezeki”.

            Semua sepakat dengan apa yang dikatakan Siti. Bahkan, hati mereka tambah kental untuk menumpas serdadu Belanda langsung ke markasnya. “Ingat, saya akan terus maju, walaupun seorang diri,” tegas Siti. Kira- kira pukul 22.00 WIB, malam itu, pasukan Siti telah sampai kekampung Parit. Kampung parit bagi mereka tempat strategis untuk berlindung dan mengatur siasat. Seorang kurir dikirim untuk menyelidiki keadaan disekitar benteng Belanda yang akan mereka serang.

            Sebelumnya mereka telah mengirim tiga orang kurir dengan pura-pura berjualan manggis muda di benteng Belanda untuk menyelidiki situasi. Menjelang tengah malam, Rasyid Bagindo Magek memberi komando untuk makin dekat ke arah benteng. Sementara Siti dan Majo Ali menyelinap masuk kedalam benteng. Suasana sedikit menebarkan. Kemudian diikuti oleh Dullah dan Rasyid menyelinap pula kedalam benteng. Sementara kelompok kedua, siap sedia mengawasi benteng dari wilayah luar. Segala sudut, pintu dan jendela, sesuatu yang akan mencurigakan mereka amati dengan teliti.

            Lampu tiba- tiba telah dimatikan Majo Ali sesuai rencana, yang tinggal cuman lampu dikamar letnan. Ketika Majo Ali membuka pintu kamar dan masuk hendak mematikan lampu, letnan itu terbangun dan langsung melompati Majo Ali, dengan serangan mendadak letnan membuat Majo Ali berhasil tercekik dan matanya mendelik. Karena lampu belum sempat dipadamkan, Siti melihat kondisi buruk Menimpa Majo Ali, dengan gerakan bak singa betina yang beringas, Siti memukul bahu letnan dengan punggung rudusnya. Seketika Majo Ali lepas dari cengkraman letnan. Tapi, sesaat selanjutnya, sasaran sang letnan mengarah pada Siti. Pertarungan antara letnan dan Siti berlangsung sengit. Dalam suatu gerakannya, letnan berhasil menjambak rambut Siti, lalu mengikatkan ke lehernya. Siti meronta, suasana semakin mencekam. Ketika letnan menarik Siti ke arah ranjang, ketika itu pula secepat kilat rudus yang ditangan Siti menyabet lampu dengan dahsyat. Kelam mengumpal, dan tahu- tahu terdengar jeritan kesakitan letnan. Dengan erangan panjang, letnan rubuh menemui ajalnya.

            Perang malam itu juga sering disebut pejuang Manggopoh dengan Perang Sabil. Sebab dalam suasana gelap, siapa yang musuh dan siapa yang lawan tidaklah begitu kelihatan. Namun sebelum bertempur, garis komando juga sudah disampaikan, tebas dan tebaskan saja rudus itu kepada siapa saja yang ada dihadapan. Mana yang dimakan rudus itu adalah musuh, yang tidak mampan kena rudus artinya kawan. Pedoman itu membuat pasukan Siti leluasa dan makin garang menumpas musuhnya. Melihat sang letnan sudah terkapar tidak berdaya, Siti dan Majo Ali masuk keruang serdadu diikuti oleh anggota pasukan lainnya. Bersama Rasyid, di ruang serdadu pasukan 17 dengan garang melakukan penumpasan besar- besaran. Darah berserakan di lantai. Serdadu- serdadu terkapar mengenaskan di tangan pasukan yang dipimpin Siti.

            Satu persatu serdadu yang terkapar diteliti untuk memastikan sudah mati atau belum. Merasa sudah menumpas semua musuh mereka mulai menuju kearah utara untuk segera kembali. Tiba- tiba terdengar serentekan tembakan, mendengarkan suara tembakan itu mereka cepat- cepat melompat dan menyelamatkan diri. Malang bagi Siti dan Rasyid, tembakan membabi buta tersebut mengenai mereka. Siti tertembak pada bagian punggung kanan atas, Rasyid bagian bawah tubuhnya. Dua serdadu Belanda berhasil menyelamatkan diri, keesokan harinya, di pagi buta, kedua serdadu yang selamat ini melaporkan peristiwa tersebut ke Lubuk Basung. Mereka kabarkan nasip 53 temannya yang tewas mengenaskan. Belanda menambah pasukannya ke Manggopoh, bantuan tentara didatangkan dari Pariaman dan Bukittinggi. Mayat- mayat serdadu Belanda diangkut ke Lubuk Basung dengan menggunakan perdati bercat merah sebanyak 18 buah.

            Nama-nama tentara Belanda yang mati tersebut dapat dilihat di sebuah tugu yang dibuat oleh Belanda di Kota Bukittinggi. Pemerintahan Kolonial Belanda menuliskan kalimat dengan cetak miring “OPSTANT KAMANG MANGGOPOH”. Sedangkan Pahlawan Mangopoh yang gugur berjumlah sebanyak 17 (tujuh belas orang) yang nama-namanya tertera di Makam Pahlawan halaman Mesjid Pahlawan Nagari Manggopoh. Keesekan harinya, suasana mencekam sekali, Kenagarian Manggopoh hening mencekam. Sebagian masyarakat ada yang lari kehutan, dan ada yang bersembunyi dirumah. Setelah bala bantuan serdadu Belanda datang dari Pariaman dan Bukittinggi mereka membuat benteng baru pula di depan surau kepala Banda. Dalam mencari pasukan 17 banyak masyarakat Manggopoh yang ditangkap. Pemerintah Belanda melakukan tindakan yang menyengsarakan rakyat. Daerah Manggopoh dijadikan wilayah tertutup, keluar masuk hanya dari kelarasan Tiku.

            Karena tertembak Siti dan Rasyid terpisah, masing- masing membawa luka yang mengalirkan darah. Siti langsung menemui Mak Kirap dirumah. Siti langsung memeluk anaknya Dalima dan Muhammad Yaman. Tak lama, dari semak- semak dekat pertemuan mereka, muncul seorang laki- laki. Ternyata laki- laki itu seorang nelayan, yang diketahui namanya Saibun. “Rasyid ada diseberang sungai Antokan, mari aku antar pakai perahui”. Tanpa pikir panjang Siti langsung ikut ketempat Rasyid dengan membawa serta Dalima bersamanya sedangkan Yaman ditinggal bersama kedua orang tuanya. Siti mengikuti langkah Saibun, mereka menelusuri semak- semak kecil, sampai dipinggiran sungai kemudian mereka menyeberang dengan perahu. Sampai di tempat persembunyian Rasyid, hati Siti mulai lega, dari kejauhan nampak pondok dan Rasyid melambaikan tangan. Tergopoh- gopoh Rasyid menghampiri ibu dan anak itu. Tapi karena luka tembak yang dihalaminya banyak mengeluarkan darah, Rasyid pun rubuh dihadapan sang istri yang menggendong Dalima. Siti meletakkan Dalima dan merawat luka Rasyid, tak berapa lama Rasyid siuman. Tiga hari lamanya, kondisi mereka mulai pulih. Merekapun berangkat untuk memperjauh persembunyian kedalam hutan.

            Setelah penyerangan Siti kemarkas Belanda, Belanda membabi buta mencari para pejuang 17. Belanda main tangkap dan tak segan membunuh orang yang dicurigai. Bahkan rumah- rumah yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Siti dan Rasyid dibakar. Situasi ini membuat hati Tuanku Padang menjadi geram pula. Ia ingin menghabisi semua Belanda. Ia menyesal tidak bisa ikut dalam penyerbuan ke markas Belanda karena sedang ke Padang. Maka, bersama orang kepercayaannya, Nak Abas dan Samun, ia ingin membuktikan kesetian terhadap perjuangan sahabat- sahabatnya itu. Dengan semangat membaja, petang hari ia ke rumah Anduang Pik Iyeh di sungai Janieh. Bertemulah Tuanku Padang dengan Kana dan Unik. Mereka sepakat (Tuanku Padang, Kana dan Unik) untuk memulai perang kembali, tepatnya 17 Juni 1908, sebagai pimpinan kali ini adalah Tuanku Padang. Tepat pukul 22.00 WIB, setelah berzikir dan berdo’a mereka menyerang ke markas Belanda. Kedatangan penyerangan kelompok Tuanku Padang disambut dengan tembakan bertubi-tubi. Tapi, tembakan itu ternyata tak mampu melukai mereka, sehingga mereka menjadi lebih bersemangat. Para serdadu Belanda itu membabi buta menembak mereka. Sehingga, mereka bertiga tewas tertembak di depan pintu benteng Belanda.

            Sementara itu dalam pelariannya, kematian Majo Ali dan Dullah pun tidak diketahui Siti. Dalam pelariannya, Majo Ali dan Dullah berhasil di tangkap pasukan berkuda (kavaleri) Belanda disebuah pondok peladangan. Karena geram Belanda ramai- ramai menembaki keduanya dari jarak dekat. Tapi, ternyata tidak sebutir pun peluru melukai Majo Ali dan Dullah karena mereka berdua kebal terhadap peluru. Majo Ali berkata “Bukalah mulutku dan tembakkan peluru itu dalamnya. Tapi, siapa yang terkena darahku, maka ia akan menemui ajalnya”. Majo Ali dan Dullah akhirnya tewas setelah ditembak dengan cara yang diusulkan. Tapi, kedua serdadu yang terkena percikan darahnya langsung tewas seketika seperti yang dikatakan sebelumnya. Sudah 17 hari Siti dan Rasyid dalam persembunyian. Kondisi semakin memburuk karena Belanda belum juga menemukan Siti. Mendengar kabar itu, akhirnya Siti memutuskan untuk menyerahkan diri bersama Rasyid. Ia tak ingin rakyat sengsara karena dia. Demi rakyat, mereka siap dihukum Belanda. Siti bersama Rasyid menyerahkan diri di kantor wali nagari bawan, disitu sudah menunggu lima tentara Belanda. Tepat pukul 12.00 siang, dengan dikawal serdadu Belanda dalam jumlah agak besar, Siti menuju Lubuk Basung untuk menghadap kontroler di kantornya.

            Dalam catatan sejarah D. Talut Api, disebutkan juga bahwa Tabuh Sutan Mangkuto, Dullah Sutan Marajo, Khalik Bagindo Marah ditangkap sedang bersembunyi dalam Gua Batu Bendi di pinggang gunung Antokan. Sedangkan Rahman Sidi Rajo, Dukap Marah Sulaiman, Na’abbas Bagindo Bandaro, Sain Sidi Malin, dan lainnya ditangkap di arah selatan menuju gunung Masang ketika sedang makan dipondok. Semuanya diikat dan dibawa ke Sago melalui Padang Sijamba. Dalam menjalani hukuman penjara, Siti secara fisik dipisah dengan Rasyid, sedangkan Dalima ikut mendekam di penjara. Dalam menjalani hukuman Siti dan Rasyid di pindah- pindahkan. Siti di penjara 14 bulan di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di Padang. Lamanya hukuman yang dijalani Siti diperkirakan sudah 4 tahun. Dalam putusannya pengadilan memvonis Siti dibebaskan bersyarat. Pertimbangannya karena Siti adalah seorang ibu dan telah menjalani hukuman penjarah berpindah- pindah dari Lubuk Basung, Pariaman dan Padang.

            Akan tetapi, putusan hukum untuk Rasyid, Rasyid dibuang ke Manado. Putusan itu memisahkan Siti dan anak-anaknya dari Rasyid. Siti pun memprotes keputusan tersebut. Ia menginginkan dihukum sama, dibuang ke tempat yang sama dengan suaminya. Tetapi, permohonannya itu ditolak. Sebaliknya, Rasyid merasa puas. Baginya, biarlah dirinya yang menjalani hukum buang. Yang penting anak dan istrinya selamat. Sampai akhir hayatnya Siti tidak pernah lagi bertemu dengan Rasyid. Siti masih dapat menyaksikan kemerdekaantanah airnya Indonesia di kampung halaman Manggopoh pada 17 Agustus 1945. Sebagai pejuang, saat kemerdekaan dirayakan, saat itu pula Siti hidup dalam kemiskinan. Inilah suatu masa, dalam perjalanan waktu, ia tiba- tiba terlupakan. Pada tahun 1957, orang kembali teringat pada sosok pejuang yang sempat terlupakan. Beliau, Mandeh Siti pejuang dan pahlawan dari Nagari Manggopoh. Sejarah tak bisa memungkiri itu. Maka dari ibukota propinsi Sumatera tengah, Bukittinggi, dikirimlah satu tim ke Lubuk Basung tepatnya ke Manggopoh untuk mengetahui keberadaan Siti. Kunjungan itu antara lain memberikan bantuan kepada Siti, sehingga Siti bisa kembali berjualan kecil- kecilan untuk menyambung hidup. Tahun 1963, mata mata Siti mengalami kerabunan. Pada tahun itu telah dibentuk panitia Hari Kartini. Tahun tersebut Siti berusia 78 tahun. Oleh panitia ia dibawa ke Padang. Di padang, dalam acara Hari Kartini mata Siti pun diobati.

            Perjuangan masyarakat Manggopoh agar Siti atau Mandeh Siti mendapat penghargaan dari pemerintahan terus berjalan. Sekali waktu pada tahun 1964, pemerintah melalui Menteri Sosial, mengeluarkan SK tanggal 17 November 1964 No. Pal. 1379/64/P.K yang menyatakan bahwa Siti berhak menerima tunjangan atas jasa- jasa kepahlawanannya. Tetapi tampa diketahui penyebabnya, tunjangan sebesar Rp. 850,- itu hanya sekali diterima Siti pada 1 Desember 1964. Begitu Mensos tersebut yang waktu itu di jabat Roesiah Sardjono SH, turun dari jabatannya, Siti tidak pernah lagi menerima tunjangan. Mendengar catatan sejarah menyangkut Siti, Diam- diam Nasution mendatangkan sejumlah orang kepercayaannya ke Manggopoh untuk menyelidiki keberadaan Siti dan kebenaran kisah perjuangannya melawan pemerintahan Belanda. Yakin dengan kebenaran itu, Jenderal Nasution secara langsung berkenan menyerahkan penghargaan kepada Siti di Manggopoh. Suatu hari pada tahun1960 setelah PRRI. Ramai masyarakat Manggopoh menyaksikan peristiwa bersejarahitu. Di Balai Satu Manggopoh, Jenderal Nasution mengalungkan selendang kepada Mandeh Siti sebagai simbol keperkasaannya selaku Bundo Kanduang. Masyarakat mengelu-elukan Siti. Haru, bahagia dan bangga menyelimuti seluruh hati warga Manggopoh. Tak terbendung lagi tangis keharuan ketika Nasution membopong dan menciumi wajah tua Mande Siti. Meski wajah tuanya kelihatan lelah, tapi tatapan matanya yang tajam masih meninggalkan kesan yang dalam. Tatapan mata Mandeh Siti memang bermakna dalam dan terkenang bagi siapapun yang sempat menatapnya. Mandeh Siti meninggal dalam usia 80 tahun di rumah cucunya, di Nagari Gasan Gadang Padang Pariaman. Mande Siti dimakamkan dengan upacara Militer di taman Makam Pahlawan Lolong, Padang. Banyak penulis dan sejarahwan menulis tentang sejarah perjuangan Mandeh Siti, salah satunya Abel Tasman, Dkk, dalam bukunya yang berjudul “SITI MANGGOPOH”